Relationship Mulai Bermasalah Kalau …
4 Maret’07
Gue lebih cinta dia daripada dia cinta gue
Masalah mulai masuk waktu kita mulai bertanya-tanya “kayaknya gue lebih cinta ama dia, daripada dia ke gue” Kita mulai nginget-inget semua yang udah kita lakuin buat pacar kita, trus mulai ngitung apakah pacar kita memberi balasan setimpal. Lantas kita mulai merasa cinta kita nggak dapet balasan setimpal. Kita mulai mundur, mengurangi perhatian. Kita nggak mau mencintai lebih dari cinta pacar kita ke kita. Kita takut kalau kita terlalu mencintai pacar kita, ntar kita dimanfaatin, taken for granted.
Makin lama makin nggak ada kecocokan
Mula-mula semua indah, tapi lama-lama perbedaan koq makin kerasa. Dia suka film laga, aku suka film drama. aku suka nonton, Dia suka makan. Kita mikir, bukannya cinta berarti pengorbanan, kita mesti menomerduakan kepentingan kita. Tapi kalau kita terus menerus mengorbankan hal-hal yang kita sukai demi relationship, akhirnya kita akan mulai nggak suka sama pacar kita, trus kita ngerasa nggak ada kecocokan lagi sama pacar kita.
Kita nggak bisa komunikasi lagi
Setiap saat kita ngomongin sesuatu akhirnya pasti berantem. Trus kita mulai menghindari topik-topik yang bikin berantem. Kita takut kalau keseringan berantem relationship kita bakal berakhir. Makin lama, daftar “topik sensitip” makin panjang, kita mulai ngerasa ada jarak, dan jarak itu akhirnya jadi jurang. The silence grow. Kita mulai mikir sampai kapan kita bisa bertahan kaya gini?
Lebih gampang kalo mulai hidup baru ama orang lain
Waktu berlalu, makin lama relationship makin didasarkan atas ketidakjujuran. Kebohongan besar maupun kecil, tapi sebagian besar ketidakjujuran kecil. Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan negatif dan prasangka tentang pacar kita yang nggak terucap. Mula-mula kita nggak mau terus-terang karena takut menyakiti hati pacar kita. Tapi sekarang rasanya nggak ada lagi yang bisa diomongin, kita nggak bisa lagi ngomong secara terbuka dan jujur. Pola komunikasi yang berdasarkan ketidakjujuran sudah terbentuk dan mengakar. Trus kita mulai mikir, kayaknya lebih gampang kalau kita mulai hidup baru dengan orang baru
Kalau dia emang sayang gue … mestinya …..
Ekspektasi, keinginan, tuntutan terhadap pacar kita yang nggak terucap semakin merusak relationship. Punya ekspektasi berarti berharap pacar kita berperilaku yang menunjukkan dia sayang sama kita. Kalau dia emang sayang ama gue … mestinya dia …, Kalau dia sayang ama gue … mestinya dia …. Kalau ekspektasi itu nggak terpenuhi, kita mulai mengambil kesimpulan yang salah tentang relationship. Makin lama makin yakin bahwa dia nggak sayang, nggak hormat, nggak ngehargai kita. Padahal belum tentu gitu
mudah-mudahan blog ini bisa jadi renungan buat temen2 yang lagi ngejalani relationship…sebenernya intinya cuma komunikasi dan sekali2 merenung betapa berartinya dia buat loe…
Desr@
March 10th, 2008 at 1:50 am
Hmm…kini aku mulai pingin explore lebih jauh tentang mu..pernah d sakiti n patah hati rupanya…
Liar n nakal menggoda…itu cara pelarian diri menghindari perasaan hati…takut merasa sepi sendiri…takut tuk disakiti lagi n lagi..
Aku mungkin bukan apa-apa bagimu…tp aku ingin kau berbagi dgn ku…aku ingin jadi bagian kecil dalam hidup mu..
Gak berharap tuk memiliki mu..karna aku juga gak pantas untuk mu…
Ekspektasi, keinginan, tuntutan, yang jauh berbeda…
Belom lagi aku harus berbagi cinta n perhatian dgn yg lain…gak adil buat mu.Takut buat mu jatuh n jatuh lagi…
Yang pasti aku sayang kamu..apapun adanya kamu..gak pernah aku merasa spt ini sebelumnya…
Im so in love with u..yesterday,to day,tomorrow n everafter.
October 22nd, 2008 at 1:21 pm
Aha… relationship…. kalau dipecah paksa : relasi di kapal (bagh!). Yap begitulah, terombang-ambing selama perjalanan. Gamang dalam ketenangan, teguh kala gelombang menghantam. Pejamkan matamu, niscaya kamu hanya akan tau, bahwa relasimu ada di sisi. Selalu.
Ini topik basi yang selalu lezat disajikan kala membina hubungan. Dari zaman Adam di taman Tuhan sampai homo sapiens-homo sapiens di taman antah berantah sekarang. Selalu diawali syukur dan sumringah di awal hubungan dan waktu pun bergulir lalu engkau dapati hati sembelit, ketar-ketir oleh sikap pasangan yang engkau ingin hadir sesuai yang engkau mau. Engkau lupa, pasanganmu bukanlah batu.
Gembok egomu, jejali pikiran bahwa memiliki seseorang adalah pilihan untuk memberi. Maka bab perkara ini terputuskan sudah. Saatnya palu bertalu. Tuk…tuk..tuk…!!!
Dedie… tulisanmu menggoda. Argumen yang cukup solid, siapakah yang ingin menggugat? Dari panjang lebar tulisanmu, saya malah tertarik pada kenyataan bahwa tulisan ini mengambang. Problem tanpa solusi.
Sesuatu yang muncul pasti, memudar tanpa disadari, bagi saya itu misteri. Dan misteri adalah hal paling menantang buat diarungi.
Salam kenal…